[Vignette] As Sweet As the Icebox Desserts

As Sweet As the Icebox Desserts

AS SWEET AS THE ICEBOX DESSERTS

.

Slice-of-life, Family / 1,1k++ words / General

[Stray Kids] Lee Minho x [Momoland] Lee Yeonwoo

© 2019 by graesthetic

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Yeonwoo menggelengkan kepala, tak habis pikir dengan tingkah Minho yang tak ubahnya dengan sebuah setrika pakaian. Sejak empat puluh menit yang lalu adik dua tahun di bawahnya itu mondar-mandir ke seluruh penjuru kamar rumah sakit tempatnya rawat inap. Cacing kepanasan, kalau Yeonwoo boleh meminjam istilah kebanyakan orang. Atau kalau mau memakai konteks mekanika kuantum, Minho bisa dianalogikan sebagai elektron yang setiap saat bisa berpindah kulit dalam hitungan sepersekian detik.

“Minho-ya, kau sedang apa, sih?” Yeonwoo yang tidak ingin bergerak dari tempat tidur hanya melongokkan kepalanya, berusaha melihat apa yang sang adik kerjakan dengan posisi membelakanginya.

“Sebentar, Kak. Aku sedang membereskan baju-baju kakak yang ada dalam tas ransel ini. Omong-omong, siapa yang membawa tasnya tadi, Kak? Mama yang membawa? Mama tadi datang ke sini?” Minho membuka pintu lemari di kamar tersebut dan mulai menyusun pakaian sang Kakak. “Kak, aku izin memegang pakaian dalam kakak, ya.”

Yeonwoo menganggukkan kepala, meski sangsi Minho yang masih membelakanginya akan melihatnya. “Iya, tadi mama sempat datang kemari sebelum pergi ke kantor.”

“Bukankah mama ada pelatihan di kantor?”

“Iya. Tapi mama menyempatkan datang kemari terlebih dahulu untuk membawa pakaian-pakaianku ini. Setelahnya, mama langsung berangkat ke kantor.”

Minho menutup pintu lemari, lalu membalikkan badan untuk menghadap Yeonwoo. “Pakaian kakak sudah kubereskan, peralatan mandi sudah kususun, handuk sudah kujemur. Sampah-sampah sudah kubuang ke tempatnya, alas kaki kita sudah kususun, nakas di sebelah kakak juga sudah kurapikan. Ada lagi yang harus kukerjakan, Kak?”

“Duduk di sini dan menemaniku,” balas Yeonwoo sambil menunjuk kursi penunggu di sebelah tempat tidurnya, lantas tertawa. “Kau ini sebenarnya datang untuk menemaniku atau menjadi pembersih kamar, sih?”

Uhm … dua-duanya?” Minho tersenyum. Kedua tungkainya melangkah menuju kursi yang ditunjuk Yeonwoo. “Habis tidak enak, kak, melihat ruangan yang berantakan.”

“Senangnya bila kau mengatakan itu terus setiap hari. Aku tidak perlu bersusah payah menyuruhmu membereskan kamar di rumah, Minho-ya … “ celetuk Yeonwoo dengan nada bergurau. “Tapi, sungguh, aku tidak meminta mama menyuruhmu kemari hanya untuk menjadi pembersih kamar. Bahkan pacarmu tadi sampai pulang karena kau mengabaikannya. Siapa tadi namanya? Roh Jisun?”

Tawa Minho mengudara. “Iya, Roh Jisun. Koreksi, dia bukan pacarku, Kak. Kami hanya teman dekat,” sahutnya.

“Apapun itu,” balas Yeonwoo. “Pokoknya, tugasmu sekarang adalah menemani aku si orang sakit. Kau tahu betapa membosankannya seharian hanya bisa terbaring di tempat tidur? Boleh, kan, orang sakit minta diperlakukan seperti ratu?”

“Ckckck ….” Minho bangkit berdiri sejenak untuk mengecek ponsel pintarnya yang tersambung ke pengisi daya. “Omong-omong, selain mama, siapa saja yang berkunjung kemari, Kak?”

“Taeha dan Ahin, sahabatku. Oh, ya! Untung kau mengingatkanku tentang mereka. Di kulkas ada dua kotak icebox dessert pemberian mereka. Tolong ambilkan, Minho-ya. Kita santap saja sekarang.”

“Dua-duanya berarti untukku, kan, Kak? Kakak, ‘kan, sedang sakit,” cetus Minho diiringi kurva jenaka di labiumnya.

Bibir Yeonwoo otomatis mengerucut. “Tidak ada pantangan makan untuk pasien demam berdarah, Minho-ya ….”

“Bercanda, Kak.” Minho membuka pintu kulkas mini yang terdapat di kamar tersebut. “Dua kotak ya, Kak? Ini rasa … oreo? Dan yang merah ini rasa apa, Kak?”

“Jambu biji. Berikan yang merah itu untukku,” pinta Yeonwoo.

Minho mengambil dua buah sendok, lalu kembali duduk di samping sang kakak. Keduanya membuka tutup kotak dessert tersebut, lalu mulai menikmatinya.

“Bagaimana kabarmu di sekolah hari ini?” Yeonwoo kembali memancing percakapan.

“Seperti biasa. Rutinitas yang menjemukan. Presentasi karya ilmiah praktikum kimia, try out ujian akhir, rapat panitia inti kegiatan karyawisata angkatan,” Minho meletakkan sendoknya dan menghela napas, “tidak ada yang spesial.”

Yeonwoo tersenyum sambil mengacak poni adiknya tersebut. “Perjuangan siswa semester akhir. Tenang saja, semua ini akan berlalu pada akhirnya. Semangat!”

Mendengar ucapan kakaknya tersebut, Minho mengulas sebuah senyum tipis.

“Kak Yeonwoo sendiri, apa saja yang kakak kerjakan seharian ini?”

Uhm … “ Yeonwoo mendongak, mencoba mengingat-ingat, “menonton televisi, membuka Instagram, menonton film dari ponsel, membalas pesan dari teman-temanku …. Singkatnya, aku juga bosan. Hahaha.”

“Sudah bisa kutebak. Pasti bosan ditinggal sendirian di sini tanpa ada orang yang bisa diajak bercakap-cakap.” Minho menyuap kembali dessert-nya. “Omong-omong, dessert ini enak. Ini beli di mana? Kapan-kapan kita beli juga, yuk!”

Yeonwoo tertawa.

“Oh ya, Kak. Kakak tahu, tidak, arti nama Kakak?” Kali ini Minho mengangkat topik lain.

Bicara jujur, Yeonwoo sebenarnya sudah tahu arti namanya. Hanya saja, ia ingin mendengar jawaban dari adik laki-lakinya itu. Jadi, dengan sendok yang terselip di antara bibir, Yeonwoo menggeleng.

Minho meletakkan sendoknya di dalam kotak dessert dan tersenyum, seakan siap memberi penjelasan panjang lebar. “Tadi di sekolah aku iseng mencari arti nama kita. Yeonwoo berarti hujan gerimis.” Senyum Minho makin lebar seraya ia menatap obsidian gelap sang kakak lekat-lekat. “Artinya bagus ya, Kak? Cantik, manis, dan penuh makna. Pantas saja kakakku ini sangat cantik.”

Tawa Yeonwoo pun kembali meledak.

“Kenapa, Kak?” tanya Minho bingung, tapi tak urung dia ikut tertawa juga.

Yeonwoo terlebih dahulu menenggak air minum dalam gelas di sebelah tempat tidurnya sebelum menjawab. “Kau memang pandai sekali berkata-kata. Pantas saja Roh Jisun jatuh cinta padamu.”

“Ih, kami hanya teman, Kak!” ucap Minho cepat.

Yeonwoo menangkap semburat merah dari pipi Minho, dan makin besarlah hasratnya untuk menggoda adiknya tersebut. “Jujur saja, kau menyukainya, kan?”

“Ih, kami hanya teman … “ sahut Minho.

Sulung keluarga Lee itu pun memberikan anggukan paham. “Baiklah … hanya teman … “ ulang Yeonwoo dengan senyum jenaka. “Kita balik ke topik awal. Ternyata arti namaku bagus, ya? Bagaimana dengan arti namamu sendiri?”

“Arti namaku juga bagus!” ujar Minho cepat.

“Oh ya?”

Yep!” Senyum bangga terulas di bibir pemuda itu. “Kalau dari yang kucari, Minho berarti seseorang dengan kebaikan serta kecerdasan cemerlang. Bagus, kan? Tidak heran kalau aku selalu masuk peringkat sepuluh besar, Kak!”

Lagi-lagi Yeonwoo tertawa, gemas dengan ocehan adiknya.

“Kak, dessert ini tidak harus dihabiskan sekarang juga, kan? Maksudku, aku mau menyimpannya lagi di kulkas. Siapa tahu papa dan mama mau memakannya saat datang kemari,” cetus Minho.

Bola kepala Yeonwoo mengangguk. “Simpan saja. Simpankan juga punya kakak, nih.”

Minho melakukan seperti yang dipinta oleh kakaknya.

“Minho-ya, setelah ini kau mandi saja dulu. Kau bawa baju ganti, kan? Atau minta tolong saja pada papa untuk membawakan baju gantimu saat hendak kemari. Kurasa kau sudah gerah memakai seragam sekolah itu seharian.”

“Memang benar, Kak,” balas Minho. “Apalagi tadi aku sempat bermain basket dengan seragam ini juga.”

“Nah, kalau begitu cepat mandi. Ada shower dengan air hangat,” ujar Yeonwoo. “Oh ya, kau mau makan malam apa, Minho-ya? Biar aku pesankan lewat ojek online. Tenang, ini traktiranku, sebagai rasa terima kasihku karena telah menemaniku di sini.”

“Serius, Kak?!” Raut wajah Minho berubah girang. “Piza, boleh?”

“Boleh,” Yeonwoo tersenyum. “Topping?”

“Apa saja. Terserah kakak.”

“Baiklah.”

Yeonwoo mengambil ponselnya di atas nakas, menekan layarnya beberapa kali untuk melakukan pemesanan piza seperti permintaan adiknya.

Minho sendiri sudah masuk ke kamar mandi dan telah menutup pintu. Namun, tiba-tiba pintu tersebut kembali terbuka dan Minho melongokkan kepala keluar.

“Kak Yeonwoo!” panggilnya.

Yeonwoo mengalihkan pandangannya dari ponsel. “Hmm?”

“Omong-omong, dessert-nya manis. Sama sepertimu, Kak.”

Hampir saja bantal putih milik rumah sakit itu melayang menumbuk kening sang pemuda.

“Cepat mandi sana, Lee Minho!”

-fin-

A/N

A li’l review would be nice, right? 🙂

 

Satu respons untuk “[Vignette] As Sweet As the Icebox Desserts

Write Your Comment Customers

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s