[Ficlet-Mix] Encoure Vous, Vous Gardez

wp-image-1290816090jpg

Encore Vous, Vous Gardez

©2017 – ninegust

[PTG’s] Wooseok & [OC’s] Jooshil | T, Ficlet, AU!Comedy, Fluff, Romance, Drama, slice of life, School-life.

.

.

.

 I own the plot!

.

.

.

***

#1

Jooshil mendesah kesal ketika sukses menghantam dahinya pada seseorang yang ada di hadapannya, akibat ia terlalu malu menunjukkan wajahnya di depan seluruh siswa kelas tiga. Oh ya, omong – omong, lorong kelas tiga tepat ada di bagian bawah gedung sekolah ini, dan ya, setiap gadis Lee itu sampai ke sekolahnya ia akan bersusah payah menaiki beberapa belas tangga untuk sampai ke lorong kelas dua.

Gadis itu perlahan – lahan mendongak memastikan bahwa yang ia tabrak bukanlah kakak kelas bernama Mingyu yang aduhai tampannya setengah mati. Kalau – kalau terkaannya kali ini benar dapat di pastikan gadis berdarah Lee ini akan langsung mati berdiri saat itu juga.

“Lihat – lihat kalau jalan, pendek”

Mulutnya ternganga beberapa senti, ia terkejut bukan main begitu yang didapati bukanlah si senior Kim. Melainkan pemuda beralis ulat bulu, kedua bola mata Jooshil berhasil membulat seperti bola pingpong.

A –aku yang tingginya 167 ini di bilang pendek?! batinnya.

Pria yang beralis tebal itu langsung meninggalkannya, tanpa beban apapun. Ia melangkah dengan pasti seakan ia baru saja mencibir kancil yang kehilangan wortelnya. Gadis itu berdecak sebal lantas memutar haluannya, tubuhnya benar –benar ingin meledak sekarang.

Heh kau! Berani –beraninya kau bilang aku pendek!, Kau yang terlalu tinggi tahu!”

Setelah puas akhirnya tungkai gadis itu buru – buru melangkah menghindari serangan betubi – tubi yang bisa –bisa menjadi akibat kelakarnya. Ah iya, orang yang di tabrak oleh Jooshil tadi adalah seorang pemuda bernama Jung Wooseok. Yang mana, kau harus kehilangan akal sehatmu dulu kalau ingin percaya dengan tinggi badannya. Sok tampan, dan selalu menganggap sesuatu hal dengan enteng. Ya seperti tadi saja.

Kalau sampai waktu ia bertemu lagi, apalagi sampai mulutnya berkicau tentang tinggi badannya lagi, akan Jooshil pastikan ia akan lari terbirit – birit memanggil ibunya karena takut akan boneka Barbie.

Iya, dia takut dengan boneka Barbie.

***

#2

“Ayo kekantin! Kali ini aku yang traktir!” Seruan dari teman sebangkunya, Paris. Membuat hasrat ingin segera mengisi perutnya bangkit kembali, lantas di rangkulnya teman seperjuangannya itu dengan penuh semangat.

Tungkai keduanya berhenti ketika melihat betapa padatnya kantin sekolahan kini. Maka dari itu, Jooshil sangat malas melangkahkan tungkainya ke tempat ini, bukan karena harga makanannya terlalu mahal, melainkan terlalu banyak populasi yang harus ia hadapi demi mendapatkan sepiring nasi. Huh, pasti tempat ini sudah jadi penampungan manusia. Buktinya benar kan, mereka berdua kini berdesak – desakan demi mendapat satu kantung makanan penunda lapar.

“JOOSHIL KAU DIMANA?!”

Samar – samar gadis itu mendengar Paris memanggil namanya dari arah timur, tapi saat ia hendak merajut langkah untuk mencari sumber suara. Tiba –tiba saja tubuhnya melayang karena kakinya yang lupa melihat –lihat bahwa ada jus tumpah diatas lantai putih yang mengkilap ini.

“AH!”

Bagus, beruntung satu tangan cekatan mengambil tangan kurusnya. Kalau tidak, mungkin dia sudah mencium dinginnya lantai putih ini dan menjadi pusat perhatian lantaran tergeletak bak ikan lumba – lumba yang terbawa hanyut ke pesisir pantai.

Maniknya membuka perlahan hendak melihat siapa gerangan yang menjadi pahlawan di tengah – tengah sekumpulan banyak orang.

“Kalau jalan lihat – lihat, dasar pendek. Selain bodoh kau ini juga ceroboh ya” Ungkap sang pemuda, dengan nada sarkatis.

Bagus. Lagi – lagi pemuda bernama Jung Wooseok itu bertemu dengannya. Membuatnya malu seperti saat pertama kali bertemu, sialan, perasaan apa yang meluap di dalam dada membuatnya gelagapan.

Belum mengatakan sepatah kata apapun akhirnya Jooshil meninggalkan tempat itu secepat kilat. Sambil menutupi wajahnya yang tak sanggup mempercayai apa yang sudah terjadi detik ini.

***

#3

Ah, kali ini hujan lagi. Bagus sekali, sekarang Jooshil terjebak di dalam halte bus ini, ditambah lagi hujannya semakin deras seiring waktu berdentang. Sepertinya tuhan tak mengizinkannya pulang lebih cepat dari biasanya hari ini. Huh, memangnya siapa yang berani dengan menentang perintah sang pencipta?, tidak ada. Meskipun ada, Jooshil yakin itu hanyalah kekhilafan semata.

Kendati begitu, gadis ini baru teringat bahwa tadi pagi ibunya menyiapkan payung doraemon kesukaannya di atas meja belajarnya, namun bodohnya ia lupa memasukkan benda itu kedalam tas. Dan jadilah ia disini, berdiri menunggu hujan berhenti. Seperti menunggu cinta sejati yang entah kapan datang kemari, lama sekali.

“Ayo”

Rungunya menangkap suara berat dari arah samping telinga kiri, ia menoleh dan menemukan presensi pemuda yang tiga hari berturut – turut ikut andil dalam mengisi hari – harinya kini. Oh tidak, jangan Wooseok lagi.

“Apanya yang Ayo?!”

Wooseok menanggalkan mantelnya lantas berbagi dengan gadis bersurai cokelat itu . Jooshil sempat membuang muka ketika wajah mereka saling bertemu dengan jarak hanya beberapa senti. Dan itu membuat dengup jantungnya berpacu cepat lebih dari biasanya. Tidak ini namanya malu, bukan jatuh cinta.

“Aku akan mengantarmu pulang, ayo”

Tidak Wooseok jangan lagi.

***

#4

Hari ini benar – benar membosankan, di karenakan beberapa alasan membuat Jooshil malah berlari untuk menyibukan diri –atau bisa dibilang, bersembunyi dari pelajaran Pak Jongin– ke perpustakaan sekolah ini.

Tungkainya berjalan menimbang-nimbang sekiranya apa yang bagus untuk dibaca pada waktu senggang ini. Bibirnya tersungging ketika melihat buku bersampul putih kusam, yang terlihat berdebu di kolom paling atas. Dan sayangnya kakinya tak cukup sampai untuk meraih buku itu. Bak cinta yang sulit di raih dalam waktu singkat, akhirnya Jooshil menyerah, dan hendak meminta bantuan pada siapa saja yang bersuka rela membantunya untuk mendapatkan benda tebal itu.

Baru saja ia ingin melangkah berbalik namun ia terkejut saat tahu –tahu seseorang bertubuh tinggi tengah menghalangi jalan sampai membuatnya tersudut dengan rak cokelat. “Ma –maaf permi–”

“Sudah kubilangkan? Kau ini pendek, sudah tahu pendek bukannya meminta bantuan malah sok mengambilnya sendiri, dasar tak tahu diri”

Oh tidak, lagi – lagi si pemuda tinggi bernama Jung Wooseok lagi. “K –kau kenapa bisa ada disini sih?!”

“Memangnya kenapa? Kau lupa ya? Ini ‘kan sekolahku juga!”

“Hey, kalau mau pacaran diluar sana, menganggu saja!”

Wooseok menoleh lantas tersenyum pada si kutu buku Boo Seungkwan, “Baiklah manis, ayo kita keluar saja”

***

#5

Kedua tangan Jooshil tergerak untuk menopang wajah cantiknya, lantas ia menguap lebar, rasa kantuk mulai menjalar ke seluruh bagian tubuhnya. Takut – takut nanti pelajaran kedua ia tidur pulas hingga sukar di bangunkan, akhirnya ia pamit pada Paris untuk sekedar mencari angin di luar kelas.

Tangannya ia kaitkan pada besi balkon berwarna hitam yang dimana beberapa sisinya sudah terlihat berkarat. Maniknya menyapu seluruh pemandangan di penjuru sekolah ini, lalu berhenti ketika menemukan seonggok pemuda tengah memainkan bola basket dengan lihai sendirian di lapangan dengan semua kancing baju yang terbuka sehingga memperlihatkan kaus dalamnya.

“Hey Pendek!, aku tahu aku ini tampan, jangan di tatap seperti itu, kau punya tata krama tidak?!”

Ah Jooshil baru sadar, bahwa pemuda itu adalah Jung Wooseok yang baru – baru ini membuatnya tak bisa tidur di karenakan kelakuannya yang seperti kucing garong.

 

-FIN-

jadi ini sebenernya fic lama yang direvisi ulang, maafin ya agak gaje gitu wkwk abis Wooseok kalo bombardir hati orang ga kira-kira.

mind to review, guys? 😉

-tiaa